
Sragen – Pemasangan tiang jaringan oleh Tower Bersama Group (TBG) di wilayah Klaster Desa Mojokerto, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, memunculkan dinamika di tingkat desa. Proyek infrastruktur tersebut disebut melintasi jalan eks DPU dan masuk hingga wilayah RT 9 RT di desa jenggrik kedawung.
Di satu sisi, pembangunan jaringan dinilai sebagai bagian dari penguatan akses internet. Namun di sisi lain, pelaku usaha wifi rakyat yang telah beroperasi sejak 2013 mengaku kecewa karena merasa tidak mendapatkan ruang komunikasi sebelum proyek berjalan.
Kepala Desa Jenggrik menyatakan bahwa proyek tersebut merupakan ranah bisnis dan proses perizinannya berada di tingkat kabupaten.
“Desa tidak bisa mengintervensi karena itu kewenangan di atas dan sifatnya bisnis,” ujarnya saat dimintai keterangan. Rabu (11/2/2026)
Sementara itu, pelaku usaha wifi lokal menegaskan bahwa mereka tidak menolak investasi atau pengembangan jaringan. Mereka hanya berharap adanya dialog agar tidak muncul kesan seolah-olah menjadi pihak yang menghambat program.
“Kami ini sudah melayani warga cukup lama. Kalau memang ada pembangunan, mestinya ada komunikasi supaya tidak timbul salah paham,” kata salah satu pengelola. Rabu (11/2/2026).
Model tower bersama seperti yang dijalankan TBG memang umum digunakan untuk efisiensi infrastruktur telekomunikasi. Skema ini memungkinkan beberapa operator berbagi satu jaringan fisik, sehingga dinilai lebih hemat dan memperluas jangkauan layanan.
Namun dalam konteks desa, pembangunan infrastruktur kerap bersinggungan dengan relasi sosial dan ekonomi lokal. Usaha wifi rakyat yang telah berjalan lebih dari satu dekade menjadi bagian dari denyut ekonomi digital di wilayah tersebut.
Sejumlah warga berharap persoalan ini tidak berlarut-larut dan dapat diselesaikan melalui musyawarah. Mereka menilai pembangunan dan keberlangsungan usaha lokal semestinya dapat berjalan berdampingan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital di desa bukan semata soal jaringan dan investasi, tetapi juga tentang bagaimana komunikasi dibangun agar tidak menimbulkan persepsi saling berhadapan.
Tim redaksi



No Responses