
Solo | SAPUJAGADNEWS – Setelah Jalani Sanksi Kerja, Salsabella Siswi SMK N 3 Surakarta Dilarang Ikut Ujian dan Diancam Oleh Pihak Sekolah Tidak Akan Dapat Ijazah, Salsabella Seorang siswi kelas XII SMK N 3 Surakarta, tidak dapat mengikuti ujian sekolah dan terancam tidak memperoleh ijazah kelulusan.
Hal tersebut disampaikan Salsabella setelah dirinya dilarang mengikuti ujian oleh pihak sekolah pada Kamis, 8 Januari 2026.
Salsabella menyatakan keberatan dan merasa dirugikan atas keputusan tersebut, menurutnya, ia telah menjalani seluruh kewajiban dan sanksi yang diberikan sekolah, termasuk bekerja di kafe milik sekolah selama lebih dari delapan jam.
“Saya merasa dirugikan, karena sudah memenuhi sanksi persyaratan prosedural dan menjalankan kewajiban bekerja di kafe sekolah lebih dari delapan jam tanpa diberi makan. Namun, saya tetap tidak diperbolehkan mengikuti ujian. Ini tidak adil,” ujar Salsabila kepada wartawan Teliksandi.id.
Lebih lanjut, Salsabella menjelaskan bahwa dirinya termasuk salah satu dari lima siswa yang mendapat sanksi dari pihak sekolah. Kelima siswa tersebut adalah:
1. Fahri Akbar Insani (XII AKL 1)
2. Salsabila (XII AKL 1)
3. Kesya David (XII BSN 2)
4. Wisnu Ardana (XII PM 1)
5. Yesaya (XII PM 1)
Namun, dari kelima siswa tersebut, hanya Salsabella yang dilarang mengikuti ujian dan disebut-sebut terancam tidak mendapatkan ijazah kelulusan.

Salsabella mengaku telah meminta maaf secara langsung, bahkan pihak keluarga juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah. Meski demikian, ia tetap tidak diizinkan mengikuti ujian.
“Saya hanya berada di luar ruangan sekolah. Saya sudah minta maaf, keluarga juga sudah minta maaf, tapi tetap tidak diperbolehkan ikut ujian. Saya sedih dan tidak terima karena ini menyangkut masa depan saya,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan bahwa sanksi kerja di kafe sekolah, SKAGA Moncer Cafe, dilakukan dari pukul 08.00 WIB hingga 21.00 WIB tanpa diberikan makan dan tanpa waktu istirahat yang layak, Bahkan, konsumsi makan selama menjalani sanksi tersebut harus dipenuhi oleh orang tuanya sendiri.
“Saya bekerja dari pagi sampai malam tanpa diberi makan. Orang tua saya yang setiap hari mengirimkan makanan ke kafe sekolah. Karena kelelahan, saya sampai jatuh sakit,” tambahnya.
Sementara itu, saat wartawan mencoba mengonfirmasi pihak sekolah, kepala SMK N 3 Surakarta tidak bersedia ditemui.
Salsabila bersama kedua orang tuanya berharap pihak sekolah dapat memberikan kebijakan yang adil, sehingga ia tetap dapat mengikuti ujian, melaksanakan PKL, dan memperoleh ijazah kelulusan.
“Saya kasihan melihat anak saya sudah putus asa. Semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua sekolah agar tidak mengecewakan siswa, karena masa depan mereka masih panjang,” ujar salah satu orang tua Salsabila. (Uci/red)



No Responses